Feeds:
Posts
Comments

Gulen on Poetry

1. Puisi adalah suara yang terdengar ketika seseorang merasuk jauh ke dalam dirinya, dan setiap jeritan yang bersumber darinya terasa sangat menggugah. Nada suaranya terkadang lantang dan terkadang juga lembut—yang tergantung pada keadaan dan kedalaman spiritual sang penyair. Jadi setiap kata dan suara akan bisa dimengerti sepenuhnya jika seseorang memahami keadaan spiritual dari penggubahnya pada saat puisi tersebut diciptakan.

2. Puisi lahir dan mengambil bentuk berdasarkan kepercayaan, budaya dan pola pikir yang membentuk sensitifitas dan pandangan penyair. Inspirasi membuatnya menjadi lebih dalam dan mentransendesikan kesadaran. Di dalam hati yang penuh inspirasi, sebutir atom bisa menjadi matahari dan setetes air menjadi lautan.

3. Betapapun besar peranan akal pemikiran dalam puisi, namun hati manusia memiliki arahnya sendiri. Mengutip Fuzuli: “Kata-kataku membawa panji pasukan penyair.” Ketika pikiran berkembang dalam hati dan diberi sayap imajinasi, maka mereka mulai membuka pintu ketakterhinggaan.

4. Puisi mengekspresikan dinamika, antusiasme dan kesedihan batin seseorang. Dalam batas-batas tertentu, jika puisi dibuat dengan nilai-nilai kebenaran universal dan abadi, ia akan seperti hidup dan seakan-akan berasal dari alam lain. Setiap doa merupakan puisi dan semua puisi adalah doa jika ia mengepakkan sayapnya menuju ke nilai keabadian.

5. Sebuah puisi yang tumbuh dari landasan nilai-nilai kebenaran serta terbang menembus cakrawala kemurnian akal dengan sayap hati tidak akan mempedulikan pemikiran positivisme. Puisi ini menggunakan material kata-kata dari dunia fisik hanya sebagai wahana untuk menangkap dan memberi bentuk sesuatu yang abstrak.

6. Puisi lebih dari sekedar ucapan kata-kata berirama, karena makna dan ekspresi dari frasa-frasa immaterial akan membangun semangat dan membangkitkan ketakziman di dalam hati. Semua hal merupakan monument dari puisi di dalam dirinya sendiri.

7. Seperti semua cabang dari seni, sebuah puisi yang tidak terhubung dengan ketidakterhinggaan tidak akan bersinar dengan cemerlang dan lambat laun akan meredup. Jiwa manusia terpuaskan dengan keindahan yang tak berhingga, dan kesadaran manusia yang selalu merindukan keabadian akan meminta sang seniman untuk melongok ke masa depan. Seniman yang menolak permintaan ini akan selalu menirukan bentuk semu dari semua hal, karena ia tidak mampu melihat jauh menembus tirai eksistensi ini.

8. Sebuah puisi yang memuat hubungan antara bentuk dan isi, tubuh dan jiwa tanpa mengorbankan salah satu diantaranya akan mencapai harmoni yang dicari dan disukai semua orang. Bahkan imajinasi pun tidak akan mampu untuk memberikan sebuah motif baru seperti yang disediakan oleh puisi. Criteria or Lights of the Way, Izmir 1990, Vol. 3, hal. 12-23

Setiap ajaran dan kebenaran akan berjaya dan diakui secara universal jika para pengikutnya mempunyai keteguhan hati dalam memelihara dan melindunginya. Jika para pengikutnya tidak lagi percaya dan setia serta tidak menjaganya, maka apa-apa yang mereka yakini dan ikuti akan hilang dari ingatan manusia karena serangan dari musuh-musuh mereka.

Seperti air yang tidak mengalir mengeluarkan bau, mengental kehilangan sifat cairnya, maka orang yang berada dalam kehidupan yang nyaman akan dengan mudah untuk melapuk, membusuk dan menjadi pecundang. Hasrat untuk mereguk kenyamanan adalah alarm pertama tentang hal ini dan merupakan pertanda kematian. Orang yang sensitivitasnya lumpuh tidak akan mendengar alarm ataupun memahami pertanda ini, sehingga mereka mengacuhkan peringatan dan nasehat dari teman-temannya.

Kemalasan dan hasrat untuk berada dalam kenyamanan merupakan penyebab utama timbulnya penderitaan dan kehinaan. Orang-orang yang malas suatu hari akan jatuh serendah-rendahnya hingga kebutuhan sehari-hari pun perlu disuplai oleh orang lain.

Jika hasrat untuk berada di zona nyaman ini berpadu dengan kemalasan manusia untuk “meninggalkan rumahnya”, maka “garis depan” akan ditinggalkan dan semua orang akan menjadi pengecut. Jika kemunduran ini tidak bisa diidentifikasi dan ditangani secara benar maka sesuatu yang buruk akan datang menghampiri kita.

Orang-orang yang meninggalkan “medan juangnya” dikarenakan mereka menyukai kenyamanan dan kemewahan biasanya akan menemui sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang mereka harapkan. Mereka bahkan bisa kehilangan rumah dan anak-anak tercinta mereka. Sungguh benar kata-kata dari seorang ibu kepada anaknya, seorang panglima yang tidak bertempur dengan gagah berani: “Kau tidak bertempur seperti layaknya seorang laki-laki, jadi sekarang duduk dan menangislah seperti seorang wanita!” (Asma binti Abu Bakar ra dan anaknya Abdullah bin Zubair ra. (penyunting))

Pada manusia, perubahan dan pembusukan terjadi secara lambat dan hampir tidak kelihatan. Kadang-kadang kecerobohan kecil atau “penyimpangan kecil dari jalan kafilah” akan berakibat pada keruntuhan dan kehancuran total. Namun bagaimanapun, karena orang-orang ini melihat dan menyangka dirinya masih berada pada jalan dan situasi yang sama, mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah jatuh dari atas puncak menara dan tercebur di dasar sumur yang dalam.

Beberapa orang yang meninggalkan tugasnya dan bergulat dengan perasaan bersalahnya—perasaan yang biasanya dipunyai oleh orang yang lari dari sesuatu—akan membela diri dan menyalahkan teman-temannya yang masih melanjutkan tugasnya. Situasinya sudah sangat mustahil bagi orang-orang ini untuk kembali ke jalan kehidupan awalnya yang tidak menyimpang. Nabi Adam kembali ke tingkatannya semula setelah mengakui dan menyesal dari kealpaannya terhadap larangan Allah. Sebaliknya, syaitan tetap terus membela dirinya walaupun tak terbilang dosa telah dilakukannya.

Orang –orang yang telah kehilangan semangat dan kendor daya juangnya akan mempengaruhi semangat semua orang yang berada di sekitarnya. Terkadang hanya dengan menampakkan sedikit keraguan, orang-orang ini bisa gelombang kejut yang bisa memusnahkan harapan-harapan baik. Bencana ini semakin mendorong musuh-musuh kita untuk lebih garang menyerang kita.

Keterikatan dengan anak-anak, keluarga dan benda-benda keduniaan adalah godaan dan merupakan beban bagi kita. Orang yang sukses adalah orang yang berkemauan kuat, yang setiap pagi dan petangnya selalu memperbaharui janjinya untuk terus terikat dan mengikuti kebenaran yang abadi. Criteria or Lights of the Way, Izmir 1996, Vol. 1, (edisi kesembilan), hal. 41-46

Musyawarah

Musyawarah merupakan syarat utama untuk menghasilkan keputusan yang benar dan tepat. Keputusan yang dicapai tanpa pertimbangan dari orang lain biasanya tidak menghasilkan apa-apa. Setiap individu dan bahkan para jenius yang biasanya hanya mementingkan pertimbangannya sendiri, dan siapapun yang terputus dari orang lain dan tidak mempertimbangkan pendapat/masukan mereka–akan berada pada situasi yang mempunyai resiko kesalahan yang sangat besar bila dibandingkan dengan mereka yang memberi dan menerima pendapat yang lain.

Musyawarah merupakan kondisi pertama yang harus dilalui untuk mencapai keputusan yang benar. Memperhatikan dan mempertimbangkan pendapat para sahabat serta niat yang baik merupakan senjata utama untuk menghindari kesalahan.

Orang bijak adalah orang tahu bagaimana bermusyawarah dan tahu bagaimana cara mendapatkan keuntungan dari semua pendapat orang lain. Sungguh suatu kenikmatan jika bisa bekerja bersama dengan tipe orang seperti ini. Sedangkan tipe yang lain, yaitu orang-orang yang tidak sensitive, dangkal pemikiran dan sangat menjunjung tinggi pendapat sendiri cenderung untuk mengintimidasi orang lain untuk menerima pendapat mereka. Orang-orang dengan tipe seperti ini tidak layak untuk diajak kerja sama.

Criteria or Lights of the Way, Izmir 1996, Vol. 1, (edisi kesembilan), hal. 28-31

Gerakan Gulen

15 Juni 2010 Stephen Jolly, PhD

Dari seluruh tulisan Fethullah Gulen, kita menemukan suatu filosofi yang sangat menghormati semua manusia sebagai hamba Tuhan. Dalam hal ini, Fethullah Gulen mengajarkan kita bahwa semua manusia itu sama tanpa memandang latar belakang tradisi, kepercayaan dan budayanya. Tentu saja sesuatu yang meneguhkan pandangan ini bahwa terlepas dari segala perbedaannya, sebetulnya semua manusia saling membutuhkan dan bisa saling belajar-adalah cinta dan kasih sayang pada sesama. Dia menulis, “Ketidakpedulian terhadap pandangan (nilai) orang lain akan membatasi sesuatu yang pada dasarnya bernilai luas dan universal, dan ini merupakan penghambat bagi kemajuan”. Secara sederhana, Fethullah Gulen meyakini bahwa dalam kebersamaan kita dalam menjalani kehidupan ini ada panggilan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, saling menghargai dan saling mengasihi. Dalam tulisan-tulisannya, kita bisa temukan sebuah interpretasi dari teks-teks suci Islam yang meletakkan kerja keras, pengampunan dan tidak mementingkan diri sendiri pada tema utama. Dalam kata-kata dan kehidupannya, kita akan temukan kehadiran “Salaam”-kedamaian-untuk kemanusiaan yang lebih beragam dan luas.

Gerakan yang diberi label dari namanya telah menunjukkan sebuah pendekatan yang multi lapis untuk kehidupan dunia yang terus bergerak ini untuk membuatnya lebih indah untuk didiami. Saya akan mengungkapkan tiga hal yang pernah saya alami. Pertama, Gerakan Gulen menekankan ke pemahaman antar budaya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, para pengikut gerakan ini telah menyebar ke mana-mana dan membangun persahabatan dengan semua kelompok atas dasar saling pengertian dan saling menghargai. Sebagai hasilnya, saya telah melihat rasa takut dan ketidaktahuan banyak orang Amerika lenyap dan berganti rasa saling menghargai dan menghormati. Saya juga melihat banyak Muslim menjadi lebih menghargai tradisi Kristen dan Yahudi. Pada intinya, perayaan keragaman menjadi lebih hadir dan menghilangkan keterpecahan dan sikap bermusuhan. Mulai dari acara makan bersama hingga dialog budaya internasional, saya mengherents of the Gulen Movement travel with respect to others and build healthy, saya telah melihat sendiri adanya kemajuan yang dicapai gerakan ini dalam memperjuangkan harmoni dan perdamaian.

Kedua, Gerakan Gulen menjunjung tinggi kepedulian dan perhatian terhadap sesama. Sebagi contoh, para anggota Forum Rumi yang ada di kota saya paham betul bahwa ada para orang tua lanjut usia yang hidup sendiri tanpa sanak saudara, dan sering kali merasa kesepian setiap masa liburan (Natal ataupun Hari Ibu). Mereka ini datang secara suka rela, mengobrol dan menghibur serta membawa keceriaan bagi para lansia yang kesepian ini. Amal yang sederhana ini menjadi sebuah contoh kebaikan dan kasih sayang dari orang-orang yang berada di gerakan ini.

Terakhir, mereka aktif di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah yang menekankan pada modernitas dan sains. Dengan percaya bahwa pendidikan akan membuat perbedaan dan membawa individu untuk menghargai dunia secara luas dan mampu meningkatkan kualitas kehidupannya, Gerakan Gulen telah menghasilkan orang-orang muda yang berpendidikan tinggi di berbagai bidang seperti, teknik, fisika dan matematika. Dan yang lebih penting lagi, orang-orang ini sudah memahami realitas dunia yang multi-kultural. Dengan demikian, mereka tidak merasa terancam dengan pemikiran yang berlawanan, malah ini akan menjadi kesempatan mereka untuk lebih memperkaya wawasannya dan menyumbangkan latar belakang dan tradisi Muslim mereka. Mereka yakin bahwa hanya melalui pendidikan sebuah dunia yang terintegrasi penuh dan saling menghargai akan terwujud.

Dari semua yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kerja nyata dari gerakan Gulen ini mempunyai dampak yang signifikan pada budaya Amerika. Mulai dari mengubah gambaran umum Muslim hingga pelayanan terhadap orang-orang yang terluka, terabaikan dan kesepian, ini semua bermanfaat bagi masyarakat kita. Para anggota gerakan ini percaya kita semua dipanggil untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat kita. Jika semua orang Amerika mengadopsi etos kerja ini, semua komponen masyarakat akan merasakan manfaatnya, mulai dari sekolah dan rumah sakit hingga ke forum debat para politisi. Dan yang lebih penting lagi, di dalam dunia sesudah 9 september 2001 ini, ketakutan yang begitu mencekam benak bangsa Amerika akan memudar, hingga akhirnya istilah “Muslim teroris” dan “teroris pasif” akan terdengar aneh dan tidak masuk akal. Bangsa Amerika akan menyadari bahwa ide yang mengajarkan kekerasan kepada orang-orang yang tak bersalah, tidaklah bersumber dari Tuhan, namun lebih merupakan dari dampak haus kekuasaan politik.

Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Turki dan menyaksikan beberapa institusi yang didirikan oleh gerakan Gulen seperti sekolah, rumah sakit dan pusat komunitas. Pada setiap kesempatan, saya juga melihat orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Mereka termotivasi oleh imannya untuk mencintai sesama manusia. Sebagai contoh, guru-guru menghargai siswa dan ilmu pengetahuan, para dokter mengobati orang yang sakit serta orang-orang miskin dan marginal dibantu untuk mengangkat derajat kehidupannya. Pada setiap institusi, saya sangat terkesan dengan kasih sayang, perhatian, cinta dan penghormatan yang ditunjukkan tanpa melihat perbedaan kepercayaan, kelas sosial, ras dan gender. Tentu saja sebagai orang Kristen dan Amerika, di setiap saat saya terus membuka pikiran dan hati saya.

Dalam pandangan saya, tidak ada yang lebih baik di dunia yang terpecah belah ini dari pada kerja nyata yang dilakukan oleh gerakan Gulen. Mereka membawa pemahaman antar budaya dan bangsa yang terus berkembang pesat. Jika gerakan ini mengakar secara global, ia akan menjadi kekuatan besar yang akan menyuarakan perubahan dunia menjadi lebih demokratis, terbuka dan sehat secara damai. Semua orang mendukung demokrasi dan pertumbuhan ekonomi seharusnya secara terbuka mendukung gerakan ini. Saya percaya hal ini, karena seperti juga Dalai Lama dan Bunda Teresa, Fethullah Gulen telah memikat hati banyak orang di seluruh dunia. Gerakan Gulen berpusat pada cinta, kasih sayang, keadilan, penghargaan dan peningkatan kualitas hidup seluruh manusia, menginspirasi seluruh manusia bahwa inilah nilai-nilai yang berasal dari Tuhan.

Untuk persahabatan yang tak ternilai yang saya dapatkan di gerakan ini, dan untuk ide-ide serta kesempatan yang saya dapatkan untuk bisa berbagi dengan yang lain, saya sampaikan rasa syukur yang mendalam atas kehidupan, iman dan gerakan Fethullah Gulen. Semuanya telah membuat hidup saya berbeda dan saya berdoa semoga lebih banyak lagi yang mendapatkan manfaatnya.

Salam,
Stephen Jolly, PhD
Pastor, Gereja Baptis Jalan Freemason
Department of Sociology
Old Dominion University

 

Fethullah Gulen lahir pada tahun 1941 di sebuah desa kecil yang masuk wilayah provinsi Erzurum. Ayahnya, Ramiz Gulen, adalah imam di kawasan itu dan ibunya, Refia Gulen, merupakan seorang ibu yang penuh kasih sayang dan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan karakter spiritual dan keagamaan Fethullah Gulen. Pendidikan formal Fethullah Gulen diawali di desa kelahirannya, dan setelah keluarganya pindah ke desa tetangga, beliau mulai belajar tentang agama secara informal dari beberapa orang, yaitu ayahnya sendiri, serta beberapa guru sufi seperti Muhammad Lutfi Effendi, Haci Sıtkı, Sadi Effendi, dan Osman Bektaş. Latar belakang pendidikan agama beliau dipenuhi dengan nilai-nilai kebajikan yang dicontohkan secara langsung oleh para pendidiknya. Spiritualitas yang didapatkannya sebagian besar dilatar belakangi oleh ajaran tasawuf. Namun begitu, walaupun beliau sangat menaruh hormat kepada guru-gurunya maupun tradisi tasawuf, beliau tidak pernah tergabung ke dalam tarekat manapun.

Beliau dikenal mempunyai rasa ingin tahu dan gairah membaca yang sangat besar, dan selama masa pendidikan agama inilah ia mulai tertarik pada isu-isu kontemporer pada masa itu. Ia juga mempelajari literatur Barat klasik seperti Faust, Les Misérables, Of Mice and Man dan banyak lagi yang lain untuk mendapatkan pemahaman tentang dunia Barat secara lebih baik. Beliau juga sangat menyukai seni dan menikmati music Turki klasik dan mengagumi karya lukis Picasso dan Da Vinci. Fethullah Gulen pernah menjelaskan bahwa gaya abstrak Picasso sangat dekat dengan pemahaman Islam tentang seni.

Walaupun secara resmi ia mendapatkan izin untuk mengajar pada usia 21 tahun di daerah Edirne, namun ia diperbolehkan untuk mulai mengajar lebih awal di Erzurum yang disebabkan oleh prestasinya yang mengagumkan sebagai siswa. Khutbah dan kajian Hoca effendi (sebutan dari murid-muridnya) diikuti oleh kebanyakan mahasiswa dan intelektual. Cara penyampaian serta penggunaan bahasa Turki yang fasih telah menarik perhatian dan menghadirkan kesan yang mendalam bagi para pendengarnya sehingga akhirnya reputasinya meningkat pesat di daerah barat Turki.

Selama penghujung tahun 1950-an, Fethullah Gulen membaca karya seorang ulama Turki lainnya yang bernama Said Nursi. Said Nursi menyimpulkan bahwa masalah besar yang sedang mendera dunia Muslim dan kemanusiaan secara umum adalah kemiskinan, kebodohan serta tidak adanya persatuan. Menurut Nursi, masalah-masalah ini harus ditangani terlebih dahulu jika kita ingin membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun mereka tidak pernah bertemu, Said Nursi menjadi salah satu dari sedikit tokoh intelektual yang membentuk pandangan Fethullah Gulen dalam masalah-masalah kekinian.

Fethullah Gulen menekankan pentingnya aktivitas sosial dan mengajak rekan-rekan sebangsanya untuk bersama-sama mengatasi berbagai masalah yang mendera negerinya melalui gerakan berbasis pengorbanan dan suka rela daripada mengharapkan pemerintah untuk bertindak menyelesaikan semuanya. Ia mempromosikan pendekatan Islam moderat dalam menangani bidang spiritual dengan memfokuskan pada perkembangan spiritual individu melalui pengamalan dan aplikasi dari keimanan, toleran terhadap penganut agama lain serta membantu sesame Muslim untuk mencapai tingkat pemahaman yang sama.

Pada tahun 1966, Fethullah Gulen ditugaskan ke Izmir sebagai khatib senior dan diizinkan untuk memberikan ceramah di beberapa provinsi. Kepindahannya ke Izmir merupakan titik tolak penting dalam aktivitas sosialnya. Di kota ini, beliau mulai menyebarkan gagasannya tentang masalah-masalah sosial seperti keadilan sosial, pemulihan ekonomi, pembenahan bidang pendidikan serta kemajuan teknologi untuk mengobati penyakit-penyakit kemanusiaan seperti yang telah dijelaskan oleh Said Nursi.

Hodja Effendi telah menggerakkan roda perubahan sosial dengan sepenuhnya menggunakan potensi gerakan non-kekerasan masyarakat Turki yang sangat loyal pada ide-idenya. Beliau menjabarkan situasi sosial masa kini dengan sangat jernih dan menunjukkan sarana untuk mengatasi masalah kemiskinan, kebodohan serta perpecahan antar berbagai kelompok masyarakat. Langkah pertamanya adalah mengurangi angka buta huruf serta meningkatkan kualitas pendidikan. Beliau juga memobilisasi kalangan bisnis, pengusaha dan orang-orang kaya untuk mendanai berbagai institusi pendidikan yang kini sering disebut sebagai “Gulen Schools”, seperti asrama untuk para pelajar dan mahasiswa, lembaga bimbingan belajar untuk masuk perguruan tinggi, sekolah serta pada akhirnya universitas yang menitikberatkan pada sains dan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun memiliki berbagai institusi pendidikan tidaklah akan banyak berarti jika tidak memiliki guru-guru yang berkualitas yang secara suka rela membaktikan dirinya untuk mendidik generasi penerus yang akan membawa pencerahan bagi umat manusia dan kemanusiaan. Ribuan mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan yang mendengarkan khutbah dan ceramahnya serta merta memutuskan untuk menjadi guru. Semakin banyak orang yang menghadiri khutbah dan ceramah Hoja Effendi, makin banyak pula institusi pendidikan yang diinspirasi olehnya bertebaran di seantero Turki.

Pada pertengahan dekade 1980-an, visi Fethullah Gulen tentang bagaimana mewujudkan “better world through a better education” melahirkan sebuah proposal baru bagi para pendengarnya: membuka sekolah-sekolah di Asia Tengah yang akan segera lepas dari Uni Sovyet. Beliau memulainya dengan negara-negara baru ini karena kedekatan etnik dengan orang-orang Turki Anatolia. Dalam tahun-tahun berikutnya, beliau mendorong para pengikutnya untuk membuka dan mendanai institusi-institusi pendidikan di seluruh dunia yang membutuhkannya.

Untuk menangani masalah kemiskinan dan perpecahan, pada tahun 1990-an, Hoja Effendi menyarankan dan mendorong anggota komunitasnya untuk membentuk organisasi bantuan kemanusiaan yang beroperasi secara global, lintas negara, agama dan budaya. Pada dekade ini juga, beliau memulai dialog dengan seluruh kelompok agama di Turki. Usaha ini akhirnya diperluas hingga ke skala global untuk merangkul lebih banyak pihak yang terlibat dialog, dan diharapkan akan meningkat ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Fethullah Gulen meyakini bahwa keberlangsungan perdamaian dunia tidak akan bisa dicapai tanpa dialog dan komunikasi yang tulus.

Pada pertengahan tahun 1990-an, gerakan yang diinisiasi oleh Fethullah Gulen telah berkembang pesat hingga suatu tingkat di mana berbagai label mulai disematkan padanya, seperti “Gerakan Gulen” atau “Jama’ah Fethullah Gulen” seperti yang dipakai oleh banyak media massa. Gerakan Gulen sepenuhnya mendanai seluruh aktivitasnya melalui sumbangan dari masyarakat umum dan tidak menerima bantuan dari Pemerintah dalam bentuk apapun. Hal ini membantunya untuk senantiasa terhindar dari korupsi dan politik.

Saat ini Fethullah Gulen berdiam di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Beliau menderita berbagai gangguan kesehatan yang menyebabkannya hidup dengan sangat sederhana. Jika kesehatannya membaik, Beliau bisa menerima tamu dan memberikan nasihatnya kepada para pendengarnya.

Kualifikasi

Pengetahuan yang luas serta berpengalaman dalam mengajar ilmu-ilmu keislaman. Penulis produktif dengan lebih dari enam puluh judul buku yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dunia. Menduduki peringkat pertama public intellectual dunia dalam jajak pendapat yang diadakan oleh Foreign Policy / Prospect poll pada tahun 2008. Mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai imam, da’i dan aktivis masyarakat madani dan diakui sebagai orang yang mumpuni dalam topik-topik tentang Islam, pendidikan dan dialog di Turki.

Pendidikan

Pendidikan klasik keislaman di beberapa sekolah agama (Kurşunlu, Kemhan, Taşmescid) di bawah bimbingan ulama dan guru sufi terkenal di Turki seperti Ramiz Gülen, Muhammed Lütfi, Haci Sıtkı, Sadi Efendi, and Osman Bektaş (1951–1956)

Sekolah Menengah (1946–1949)

Home schooling ditambah dengan penghafalan Qur’an (tahfidz) dan penguasaan metode membaca Qur’an (qari’ah) (sebelum 1946)

Karir

Imam / Da’i

  • Imam / Da’i, Erzurum, Amasya, Tokat, Sivas (1955–1958)
  • Wakil Imam, Masjid Üçşerefeli, Edirne (1959–1961)
  • Imam / Pengajar, Iskenderun, ketika wajib militer (1961–1963)
  • Anggota dari Public Hall, Erzurum (1963). Mengatur pertemuan dan memberikan kuliah tentang Rumi
  • Mengajar Al Qur’an / Imam, Masjid Dar’ul Hadis, Edirne (1964)
  • Da’i senior (Merkez Vaizi), Kırklareli (1965)
  • Da’i senior, Izmir (1966–1971)
  • Direktur / Guru, Kestanepazarı Boarding Qur’anic School (1966–1971)
  • Da’i senior, Edremit (1972–1974)
  • Da’i senior, Manisa (1974–1976)
  • Da’i senior, Izmir, Bornova (1976–1980)
  • Da’i, Istanbul, Izmir, dan seluruh bagian Turki (setelah pensiun) (1986–1989)

Pembicara

  • Serangkaian ceramah di Turki dan Eropa (1975–1977)
  • Ceramah dan nasihat tentang masalah-masalah keagamaan, sosial dan budaya yang direkam dan diedarkan setiap minggu melalui website http://www.herkul.org (2003– sekarang)

Presiden Kehormatan / Tokoh Masyarakat

  • Pendiri the Journalists and Writers Foundation (1994)
  • Berpartisipasi dalam berbagai pertemuan dan dialog antar agama yang diadakan oleh institusi di atas. (1994–1998)
  • Presiden Kehormatan Rumi Forum, Washington D.C. (1999–sekarang)

Penghargaan
“Contribution to Harmony between Societies and Peace Award” dari Kyrgyzstan Spirituality Foundation (2007)Awards dari the Turk 2000 Foundation, the Türk Ocakları Vakfı, the Silk Road Foundation, atas kontribusinya dalam pendidikan, kebudayaan dan perdamaian (1998)

  • Award dari TURKSAV atas perannya di dalam pendidikan di Asia Tengah (1997)
  • Special November 24 Award dari Türk Eğitim-Sen (1997)
  • Penghargaan dari Mehmetçik Foundation (badan yang mensuport prajurit yang gugur dan terluka selama operasi menumpas terorisme) dan Kepolisian atas beberapa bantuan penting serta dari TUSIAV Foundation atas kontribusinya untuk masyarakat, perdamaian dan pendidikan (1996)
  • Nihal Atsız Service to the Turkish World (Türk Dünyası Hizmet Ödülü) penghargaan dari the Türk Ocakları Vakfı atas dorongan dan perannya dalam pendidikan di Turki, Asia Tengah dan Balkan (1995)

Penulis

Essay

  • Artikel utama dalam majalah bulanan Sızıntı sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1979 (tahun 2009 sirkulasinya 700,000)
  • Kontributor untuk Yeni Ümit, majalah empat bulanan untuk kajian keagamaan (sejak 1988), dan Yağmur, majalah sastra (sejak 1998)
  • Kontributor untuk harian Zaman dengan edisi minggu menampilkan tulisan dari buku dan komentar-komentarnya.

Buku-buku (dalam bahasa Turki – dalam urutan waktu penerbitan)

 

  • Çağ ve Nesil, 1982
  • Asrın Getirdiği Tereddütler-1, 1983
  • Renkler Kuşağında Hakikat Tomurcukları 1, 1985
  • Buhranlar Anaforunda İnsan, 1986
  • Ölüm Ötesi Hayat, 1987
  • Yitirilmiş Cennete Doğru, 1988
  • Dua Mecmuası, 1988
  • Asrın Getirdiği Tereddütler-2, 1989
  • Hüzmeler ve İktibaslar, 1990
  • Asrın Getirdiği Tereddütler-3, 1990
  • Zamanın Altın Dilimi, 1991
  • İnancın Gölgesinde 1, 1991
  • Renkler Kuşağında Hakikat Tomurcukları 2, 1991
  • İnancın Gölgesinde 2, 1992
  • Asrın Getirdiği Tereddütler-4, 1992
  • Günler Baharı Soluklarken, 1993
  • Sonsuz Nur 1, 1993
  • Sonsuz Nur 2, 1994
  • Sonsuz Nur 3, 1994
  • Kalbin Zümrüt Tepeleri 1, 1994
  • Prizma 1, 1995
  • Fasıldan Fasıla 1, 1995
  • Fasıldan Fasıla 2, 1995
  • Kitap ve Sünnet Perspektifinde Kader, 1995
  • İla-yı Kelimetullah veya Cihad, 1996
  • Yeşeren Düşünceler, 1996
  • Fasıldan Fasıla 3, 1996
  • Prizma 2, 1997
  • Fatiha Üzerine Mülahazalar, 1998
  • Ruhumuzun Heykelini Dikerken, 1998
  • İrşad Ekseni, 1998
  • Varlığın Metafizik Boyutu 1, 1998
  • Varlığın Metafizik Boyutu 2, 1998
  • Prizma 3, 1999
  • Kırık Mızrap, 2000
  • Işığın Göründüğü Ufuk, 2000
  • Kur’an’dan İdrake Yansıyanlar 1, 2000
  • Kur’an’dan İdrake Yansıyanlar 2, 2000
  • Ölçü veya Yoldaki Işıklar, 2000
  • Mealli Dua Mecmuası, 2000
  • Fasıldan Fasıla 4, 2001
  • Kalbin Zümrüt Tepeleri 2, 2001
  • Kırık Testi, 2002
  • Çekirdekten Çınara, 2002
  • Prizma 4, 2003
  • Yaratılış Gerçeği ve Evrim, 2003
  • Dua Ufku, 2003
  • Çocuğun Dini Eğitimi, 2003
  • Sabah ve Akşam Duaları, 2003
  • İnsanın Özündeki Sevgi, 2003
  • Örnekleri Kendinden Bir Hareket, 2004
  • Kırık Testi 1, 2004
  • Beyan, 2004
  • Bir Kutup Varlık Anne, 2004
  • Kur’an-ı Kerim ve Hadis-i Şeriflerde Anne-Baba, 2004
  • Sohbet-i Canan (Kırık Testi 2), 2004
  • Gurbet Ufukları (Kırık Testi 3), 2004
  • Renklerin Diliyle, 2004
  • Kalbin Zümrüt Tepeleri 3, 2005
  • Kendi Dünyamıza Doğru, 2005
  • Fikir Atlası (Fasıldan Fasıla 5), 2006
  • El Kulubud Daria, 2007
  • Kalbin Zümrüt Tepeleri 4, 2008
  • Zihin Harmanı (Prizma 7), 2008
  • Sükutun Çığlıkları, 2008
  • Enginliğiyle Bizim Dünyamız, 2009

Buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

  • Towards the Lost Paradise, 1996
  • Pearls of Wisdom, 1997
  • Key Concepts in the Practice of Sufism Vol. 1, 1998
  • The Essentials of the Islamic Faith, 2000
  • Questions and Answers about Islam Vol. 1, 2000 (originally published in 1993)
  • The Necessity of Interfaith Dialogue, 2004
  • Islam and Democracy, 2004
  • Key Concepts in the Practice of Sufism Vol. 2, 2004
  • Toward a Global Civilization of Love and Tolerance, 2004
  • The Messenger of God: An Analysis of the Prophet’s Life, 2005
  • Religious Education of the Child, 2004
  • The Statue of Our Souls, 2005
  • Questions and Answers about Islam Vol. 2, 2005
  • Selected Prayers of Prophet Muhammad and Great Muslim Saints, 2006
  • Key Concepts in the Practice of Sufism Vol. 3, 2009
  • Key Concepts in the Practice of Sufism Vol. 4, 2010
  • Speech and Power of Expression, 2010

Buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

  • Aspek Terdalam Kehidupan Nabi Muhammad SAW, Murai Kencana, 2002
  • Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman, Murai Kencana, 2002
  • Menghidupkan Iman: Dengan Mempelajari Tanda-tanda Kebesaran-Nya, Murai Kencana, 2002
  • Kunci-kunci Rahasia Sufi, Murai Kencana, 2002
  • Qadar, Penerbit Republika, 2011
  • Dakwah, Penerbit Republika, 2011
  • Islam (Terjemahan dari Asrın Getirdiği Tereddütler versi bahasa Arab), Penerbit Republika, 2011
  • Cahaya Al-Quran, Penerbit Republika, 2012

Bahasa yang dikuasai

  • Turki (Bahasa Ibu)
  • Arab (Fasih)
  • Persia (Fasih)
  • Turki Utsmani (Fasih)

 

Fethullah Gülen adalah sosok ulama paripurna yang berasal dari Turki. Pada dirinya terhimpun berbagai sebutan yang menyatakan kualitas pribadinya. Selain sebagai ulama, ia juga dikenal sebagai pemikir, penulis, penyair sekaligus aktivis pendidikan yang sangat mendukung dialog antar budaya dan agama, sains, demokrasi dan spiritualitas serta mengecam segala bentuk kekerasan dan pengubahan agama menjadi ideology politik. Fethullah Gulen menyerukan perlunya semua peradaban untuk bekerja sama alih-alih saling berbenturan:

“Jadilah orang yang toleran sehingga hatimu meluas laksana samudera dan dibimbing oleh keimanan dan cinta kepada sesama manusia. Jangan sampai ada jiwa-jiwa yang menderita dan terabaikan yang tidak mendapatkan uluran tanganmu.” (Fethullah Gülen, Criteria or Lights of the Way. London: Truestar.)

Kita percaya bahwa Fethullah Gulen dan gerakan masyarakat madani yang diinspirasi olehnya -hizmet- adalah penting, dan perlu mendapat perhatian karena beberapa sebab di bawah ini:

  • Otoritas dan pengaruh yang dimiliki oleh Fethullah Gülen: Dia dikenal baik dan dihormati oleh banyak muslim Turki dan muslim lain di seantero dunia sebagai ulama Sunni yang berjumlah kira-kira 87%-90% dari total populasi muslim dunia. Selain itu dia juga adalah seorang penulis, pemikir dan aktivis pendidikan. Pembaca buku-bukunya di Turki diperkirakan sekitar beberapa juta orang. Pengaruhya di luar Turki semakin bertambah seiring dengan penerjemahan buku-bukunya ke dalam beberapa bahasa, antara lain bahasa Inggris, Arab, Rusia, Jerman, Spanyol, Urdu, Bosnia, Albania, Melayu dan Indonesia. Selain dalam bentuk cetak, pemikirannya juga bisa diakses melalui radio dan jaringan televisi yang bersimpati dengan visi-visinya.
  • Posisinya yang menentang kekerasan, terror dan serangan bunuh diri: Fethullah Gulen sudah dikenal atas sikapnya yang konsisten dalam menanggapi kekerasan dan terror atas nama agama.
    • Beliau adalah ulama pertama yang secara terbuka mengutuk serangan 9/11 (dimuat dalam iklan di Washington Post).
    • Beliau membantu penerbitan sebuah buku yang memuat pandangan Islam yang mengutuk aksi terorisme dan bunuh diri.
    • Beliau tidak hanya menjelaskan pandangannya kepada Barat, tetapi juga menyuarakannya di ceramah di masjid yang dihadiri oleh ribuan ummat Islam.
    • Beliau secara tegas menolak serangan bunuh diri.
    • Beliau telah beberapa kali diwawancarai oleh media manca negara, seperti dari Turki, Jepang, Kenya dan Amerika. Beliau mengutuk penggunaan alasan politik, ideology dan agama untuk membenarkan aksi terorisme.
    • Beliau telah beberapa kali muncul dalam saluran televise nasional yang intinya mengutuk semua aksi kekerasan dan terorisme.
  • Perintis dialog antar agama dan keyakinan: Selama beberapa dekade Fethullah Gülen terlibat secara aktif dalam usaha mempromosikan dialog antar budaya dan agama, jauh sebelum peristiwa 9 september 2001. Di Turki sendiri, beliau dikenal atas upayanya membawa atmosfer positif dalam kerja sama antar mayoritas Muslim dengan berbagai minoritas seperti Orthodox Yunani, Orthodox Armenia, Katolik dan komunitas Yahudi. Di luar Turki, ide-idenya dalam dialog antar agama diwujudkan dalam bentuk pendirian beberapa organisasi yang bekerja dalam koridor dialog yang saling menghargai, kerja sama untuk mencapai tujuan yang saling menguntungkan serta penerimaan eksistensi yang lain secara damai. Usahanya dalam dialog ini dilanjutkan dalam bentuk pertemuannya dengan mendiang Paus Johannes Paulus II dan dan undangan dari Rabbi Yahudi Sephardik dari Israel serta dengan berbagai kelompok Kristen lainnya.
  • Kerja sama antar peradaban: Fethullah Gulen mempromosikan kerja sama antar peradaban dan menolak pemikiran benturan antar peradaban melalui dialog, dan pemahaman dan penonjolan nilai-nilai universal. Sebagai tokoh masyarakat, beliau mendukung usaha Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa dan menyatakan hal ini akan membawa manfaat bagi kedua pihak.
  • Penekanan pada aspek spiritualitas dari keimanan: Berkat disiplin spiritualitas yang didapatkan dari pendidikan masa kecilnya, Fethullah Gulen dikenal sangat menekankan dimensi ini (Barat mengenalnya sebagai sufisme) dan hal ini tampak jelas dalam padangannya terhadap sesame manusia. Karena pandangan dan pendekatannya yang mengedepankan cinta, kasih sayang dan rendah hati, Beliau juga disebut-sebut oleh berbagai pihak sebagai “Rumi Modern”. Beliau diminta oleh Şefik Can, seorang guru sufi dan keturunan Rumi untuk menuliskan kata pengantar pada bukunya (tentang kehidupan dan pemikiran Rumi). Fethullah Gulen juga menulis buku tentang sufisme (terdiri dari dua jilid) dan telah digunakan oleh beberapa universitas sebagai textbook dalam kuliah tentang tradisi spiritual yang ada di dunia.
  • Harmonisasi sains dan agama: Fethullah Gülen tidak hanya melihat tidak adanya pertentangan antara sains dan agama, tetapi juga berpandangan keduanya saling melengkapi, sehingga beliau mendorong riset-riset sains dan perkembangan teknologi untuk kemanusiaan.
  • Dimensi intelektual: Beliau sangat memahami pemikiran filsuf ternama dari tradisi Barat dan dengan sangat enak menyertakannya dalam tulisannya.
  • Pro-Demokrasi: Fethullah Gülen berpendapat demokrasi adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang “masuk akal” di zaman ini. Beliau menolak ide menjadikan agama sebagai ideologi politik dan mendorong seluruh warga negara untuk menggunakan hal politiknya di negaranya masing-masing. Beliau menenkankan fleksibilitas prinsip-prinsip Islam dalam urusan pemerintahan dan kesesuaiannya dengan demokrasi sejati.
  • Solusi untuk berbagai masalah sosial bersumber dari pendidikan: Hal yang paling terlihat nyata dari Fethullah Gulen adalah pada pelaksanaan ide-idenya. Visi-visi dan ide-idenya tidak tinggal sebagai retorika semata, beberapa ratus organisasi yang bergerak di bidang pendidikan yang mencakup sekolah, universitas dan lembaga bahasa bertebaran di seantero bumi. Lembaga-lembaga ini didirikan oleh orang-orang yang tergerakkan semangatnya oleh Fethullah Gulen, dan disponsori oleh para pengusaha lokal, para pendidik yang tulus serta para orang tua siswa yang bersemangat. Sekolah-sekolah ini tersebar di berbagai penjuru dunia, seperti yang berada di Turki bagian tenggara (rumah bagi komunitas Kurdi), Asia Tengah, Afrika, Asia Timur dan Tenggara, Eropa dan juga Amerika. Sekolah-sekolah ini menjadi simbol dari harmonisasi hubungan antar budaya dan kepercayaan, penyatuan iman dan nalar, serta dedikasi yang tulus kepada kemanusiaan. Khusus bagi daerah-daerah konflik seperti Filipina bagian selatan, Turki bagian tenggara dan Afganistan, institusi pendidikan ini menjadi bernilai dalam upaya untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan mengenyam pendidikan bagi masyarakat sekitar, yang pada nantinya akan bisa mengurangi ketertarikan generasi muda terhadap kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di daerah tersebut. Sekolah-sekolah ini juga berhasil memenangi berbagai kompetisi matematika dan sains tingkat internasional.
  • Proyek-proyek kemasyarakatan lainnya: Proyek-proyek lain yang didorong oleh Fethullah Gulen antara lain organisasi bantuan kemanusiaan (kimse yokmu), organisasi pengembangan berkelanjutan, media massa, asosiasi profesi dan institusi kesehatan seperti klinik dan rumah sakit.